Konsep Permainan Untuk Anak Usia Dini
Nama : Nur Agi Brillianti
Nim : 19005033
Dosen Pengampu:
Dr. Syur’aini, M.Pd
Zahratul Azizah, M.Pd
Mata Kuliah : Media dan Bahan Ajar PLS
Jurusan Pendidikan Luar Sekolah
Universitas Negeri Padang
KONSEP PERMAINAN UNTUK
ANAK USIA DINI
Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal.
Anak usia dini adalah anak yang berada pada rentang usia 0-6 tahun yang sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat, sehingga diperlukan stimulasi yang tepat agar dapat tumbuh dan berkembang dengan maksimal. Pemberian stimulasi tersebut melalui lingkungan keluarga, PAUD jalur non formal seperti tempat penitipan anak (TPA) atau kelompok bermain (KB) dan PAUD jalur formal seperti TK dan RA.
Dimata anak-anak, ada beberapa alasan kenapa permainan dibutuhkan sebagai media pembelajarnya. Menurut Sudono (2006: 20) beberapa alasan tersebut adalah sebagai berikut:
- Anak-anak membutuhkan pengalaman yang kaya, bermakna, dan menarik
- Otak anak senang pada sesuatu yang baru dan hal hal baru yang menantang dan menarik,
- Rangsangan otak sensori multimedia penting dalam pembelajaran. Makin banyak yang terlibat (visual, audio, dan audio visual) dalam suatu aktivitas, makin besar pula kemungkinan siswa untuk belajar
- Anak umumnya senang bergerak, jadi jangan lupa memasukan gerak dalam pembelajaran
- Pengulangan adalah kunci belajar. Berikan kegiatan yang membuat siswa dapat mengulang pembelajaran tanpa rasa bosan dan jenuh
- Permainan (games) menyenangkan bagi anak. Keinginan untuk belajar dapat meningkat dengan adanya tantangan dan terhabat oleh ancaman yang disertai oleh rasa tidak mampu atau kelelahan
Syarat pemilihan dan penggunaan alat dan bahan permainan
Beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam memilih bahan dan peralatan belajar dan bermain anak yaitu:
- Pilih alat atau bahan yang mengundang perhatian anak, Alat dan bahan dapat memuaskan kebutuhan anak, menarik minat dan menyentuh perasaan mereka baik dari warna, jenis, bentuk, ukuran atau berat. Jenis dan bentuk alat belajar juga akan berpengaruh terhadap perkembangan belajar anak. Oleh karena itu pilih yang bobotnya tidak terlalu berat sehingga anak mudah memindah-mindahkannya, kecuali memang peralatan tersebut dirancang khusus untuk tidak dipindah, digeser atau dibawa oleh anak.
- Pilih bahan yang mencerminkan karakteristik tingkat usia anak. Dalam mencari alat permainan kita harus mempelajari perkembangan dan ciri-ciri belajar anak sebagaimana karakteristik anak.
- Pilih alat atau bahan yang memiliki unsur multiguna. Alat dan bahan mainan ini dapat memenuhi bermacam-macam tujuan pengembangan atau jika memungkinkan seluruh aspek perkembangan anak dan dapat dipergunakan secara fleksibel dan serba guna. Misalnya ketika anak bermain dengan balok ia akan berfikir untuk membangun sesuatu dari balok (kognitif) membolak-balik/mengeksploras balok tersebut (motorik halus) membuat bangunan baru/aneh (kreatif) atau kerjasama dengan temannya untuk menyusun balok (sosial).
- Alat permainan sebaiknya beraneka macam sehingga anak dapat bereksplorasi dengan berbagai macam alat permainan.
- Pilih bahan yang dapat memperluas kesempatan anak untuk menggunakannya dengan bermacam cara. Tingkat kesulitan sebaiknya disesuaikan dengan rentang usia anak.
- Peralatan mainan tidak terlalu rapuh
- Pilih bahan yang tidak membedakan jenis kelamin dan tidak meniru-niru. Sebaiknya alat atau bahan yang dipilih tidak dibedakan berdasarkan jenis kelamin. Pada anak usia dini perlu diperkenalkan berbagai peran dan hal.
- Pilih alat dan bahan yang sesuai dengan filsafat dan nafas pendidikan. Alat dan bahan ini sering disebut dengan APE (Alat Permainan Edukatif) untuk mendapatkan dapat berkonsultasi dengan seorang ahli baik , ahli mainan, pendidik anak psikolog atau perawat anak yang profesional.
Kegiatan bermain anak berdasarkan kegemaran
Kegiatan bermain berdasarkan pada kegemaran anak, dibagi menjadi 4 macam, yaitu:
- Bermain bebas dan spontan
- Bermain Pura-pura, Pola bermain pura-pura merupakan permainan untuk mengembangkan imajinatif anak yang sangat unik, bahkan terkadang kurang difahami oleh orang dewasa. Oleh karena itu sebaiknya orang dewasa disekitarnya dapat lebih faham dan mengembangkan secara maksimal kemampuan anak dalam berimajinasi tersebut. dapat dibedakan menjadi beberapa bentuk: Minat pada personifikasi (bicara pada boneka atau benda-benda mati, Bermain dengan menggunakan peralatan (minum dengan menggunakan cangkir kosong, dll, Bermain pura-pura dalam situasi tertentu, misalnya situasi dalam keluarga, tempat praktek dokter,dan sebagainya
- Bermain dengan cara membangun dan menyusun. Bermain dalam bentuk seperti ini sangat baik untuk mengembangakan kreativitas anak Setiap anak akan menggunakan imajinasinya membentuk atau membangun sesuatu mengikuti daya khayalnya. Anak akan merasa bangga dan akan menunjukan kreasinya kepada teman atau gurunya. Membangun dan menyusun ini bukan hanya dengan menggunakan alat bantu (APE-Alat Permainan Edukatif)), akan tetapi bentuk gambar, lukisan (finger painting), meronce, dll, merupakan bentuk lain dari kreatitivitas anak dalam hal membentuk dan membangun.
- Bertanding atau berolah Raga, Bermain dengan jenis permainan yang mengandung unsur game atau pertandingan dalam konsep permainan, baik juga dilakukan di sekolah. Permainan yang bermakna pertandingan hendaknya dilakukan dengan aturan sederhana dan jelas, dan usahakan tempo permainan tidak terlalu panjang. Berbagai kegiatan bermain yang megandung unsur pertandingan misalnya
- Belajar mendengar dan menguasai kosa kata, Belajar mendengar dan mengapresiasi nada music, Permainan yang menuntut penguasaan anak dalam hal menjodohkan (kartu Kuartet, Domino,dll), Permainan yang menuntut penguasaan koordinasi motorik halus
Perkembangan sosial yang harus dicapai anak merupakan wujud dari pengoptimalan kecerdasan personal, khususnya Kecerdasan Interpersonal. Hal yang tidak dapat dipungkiri bahwa konsep permainan merupakan bagian utama dari kehidupan anak. Dengan demikian wajar bila kebijakan Pemerintan Republik Indonesia di Bidang Pendidikan Prasekolah (RA/TK) menetapkan bermain sebagai alat belajar utama bagi anak. Dalam kebijakan tersebut secara eksplisit dinyatakan sebagai berikut:“ Bermain adalah sifat yang melekat lansung pada kodrat anak. Jika ada anak yang tidak mau bermain, itu menunjukan adanya suatu kelainan dalam diri anak tersebut. Mengabaikan kenyataan ini, apalagi mengingkari, jelas bertentangan dengan kebutuhan perkembangan jiwa anak” (Depdikbud, 1994/1995) dalam Solehuddin (2000:87).
Komentar
Posting Komentar